Anjuran Terikat dengan Mazhab yang Tersebar di Negeri Tempat Tinggal

 


Soal Jawab Amir Hizbut Tahrir tentang Mencampur dan Mengikut Mazhab

1

#جَوَابُ سُؤَال: الـمقْصُودُ بِالتَّلْفِيقِ وَاتِّبَاعِ الـمذَاهِبِ

#Jawaban Pertanyaan: Yang Dimaksud dengan Talfiq dan Mengikuti Mazhab

2

إِلَى Abu Alan

Kepada Abu Alan

3

=========

=========

4

#السُّؤَال:

#Pertanyaan:

5

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah atas Anda.

6

أَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَوَّلًا أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكُمْ بِالصِّحَّةِ الدَّائِمَةِ، وَأَنْ يَحْفَظَكُمْ وَيَحْفَظَ أُسَرَكُمْ.

Pertama-tama saya memohon kepada Allah Ta'ala agar menganugerahkan kesehatan yang langgeng kepada Anda, serta menjaga Anda dan keluarga Anda.

7

أَوَدُّ أَنْ أَطْرَحَ بَعْضَ الأَسْئِلَةِ التَّالِيَةِ:

Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

8

1. هَلِ الِالْتِزَامُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ وَاجِبٌ عَلَى الـمسْلِمِينَ أَمْ لَيْسَ بِوَاجِبٍ؟

1. Apakah komitmen terhadap mazhab tertentu wajib bagi kaum Muslimin atau tidak wajib?

9

2. مَا الـمقْصُودُ بِالتَّلْفِيقِ؟ وَهَلْ يُعَدُّ مَنْ لَا يَلْتَزِمُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ وَاقِعًا فِي التَّلْفِيقِ؟

2. Apa yang dimaksud dengan talfiq? Dan apakah orang yang tidak berkomitmen pada mazhab tertentu dianggap terjatuh dalam talfiq?

10

3. مَا هُوَ رَأْيُ حِزْبِ التَّحْرِيرِ فِي هَذِهِ الـمسْأَلَةِ؟

3. Apa pendapat Hizbut Tahrir dalam masalah ini?

11

4. لَقَدْ نَاقَشْتُ شَخْصًا فِي هَذِهِ القَضِيَّةِ، وَقُلْتُ لَهُ إِنَّ الوَاجِبَ عَلَى الـمسْلِمِ هُوَ العَمَلُ بِأَحْكَامِ الشَّرْعِ، وَلَيْسَ الِالْتِزَامُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ، وَأَنَّ الِالْتِزَامَ بِالـمذْهَبِ إِنَّمَا هُوَ أَحَدُ الطُّرُقِ لِلْعَمَلِ بِأَحْكَامِ الشَّرْعِ. فَهَلْ هَذَا الكَلَامُ صَحِيحٌ فِي نَظَرِكُمْ؟

4. Saya pernah berdiskusi dengan seseorang tentang masalah ini, dan saya katakan kepadanya bahwa kewajiban seorang Muslim adalah mengamalkan hukum-hukum syariat, bukan berkomitmen pada mazhab tertentu, dan bahwa berkomitmen pada mazhab hanyalah salah satu cara untuk mengamalkan hukum-hukum syariat. Apakah perkataan ini benar menurut pandangan Anda?

12

أَرْجُو مِنْكُمْ التَّكَرُّمَ بِالإِجَابَةِ حَتَّى يَتَّضِحَ لِيَ الأَمْرُ وَيَطْمَئِنَّ قَلْبِي، وَجَزَاكُمُ اللهُ خَيْرَ الجَزَاءِ عَلَى إِجَابَتِكُمْ.

Saya berharap Anda berkenan memberikan jawaban agar masalah ini menjadi jelas bagi saya dan hati saya menjadi tenang. Semoga Allah membalas Anda dengan sebaik-baik balasan atas jawaban Anda.

13

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) انْتَهَى.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. (Selesai.)

14

#الجَوَابُ: وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ،

#Jawaban: Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,

15

فِي البِدَايَةِ بَارَكَ اللهُ فِيكَ عَلَى دُعَائِكَ الطَّيِّبِ، وَنَحْنُ نَدْعُو لَكَ بِخَيْرٍ.

Pada awalnya, semoga Allah memberkahi Anda atas doa baik Anda, dan kami mendoakan kebaikan untuk Anda.

16

أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِتَسَاؤُلَاتِكَ فَإِنَّ الجَوَابَ عَلَيْهَا مَوْجُودٌ بِالتَّفْصِيلِ فِي كِتَابِ الشَّخْصِيَّةِ الإِسْلَامِيَّةِ الجُزْءِ الأَوَّلِ مَبْحَثِ (التَّنَقُّلِ بَيْنَ الـمجْتَهِدِينَ) صَفْحَةَ 241-243 مِلَفِّ الوُورْدِ:

Adapun terkait pertanyaan-pertanyaan Anda, jawabannya terdapat secara rinci dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah Jilid Pertama, pembahasan "(Berpindah antar-Mujtahid)" halaman 241–243, file Word:

17

[التَّنَقُّلُ بَيْنَ الـمجْتَهِدِينَ

[Berpindah antar-Mujtahid

18

إِنَّ اللهَ لَمْ يَأْمُرْنَا بِاتِّبَاعِ مُجْتَهِدٍ وَلَا بِاتِّبَاعِ إِمَامٍ وَلَا بِاتِّبَاعِ مَذْهَبٍ، وَإِنَّمَا أَمَرَنَا بِأَخْذِ الحُكْمِ الشَّرْعِيِّ.

Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk mengikuti seorang mujtahid, tidak pula mengikuti seorang imam, dan tidak pula mengikuti suatu mazhab, tetapi Dia memerintahkan kita untuk mengambil hukum syariat.

19

أَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُولُ مُحَمَّدٌ ﷺ. وَأَنْ نَنْتَهِيَ عَمَّا نَهَى عَنْهُ.

Dia memerintahkan kita untuk mengambil apa yang dibawa Rasul Muhammad ﷺ dan berhenti dari apa yang beliau larang.

20

قَالَ تَعَالَى: (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا).

Allah Ta'ala berfirman: "(Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah)."

21

وَلِذَلِكَ لَا يَصِحُّ شَرْعًا إِلَّا اتِّبَاعُ أَحْكَامِ اللهِ، لَا اتِّبَاعُ الأَشْخَاصِ.

Oleh karena itu, secara syariat tidak sah kecuali mengikuti hukum-hukum Allah, bukan mengikuti orang-orang.

22

غَيْرَ أَنَّ وَاقِعَ التَّقْلِيدِ قَدْ جَعَلَ الـمسْلِمِينَ يُقَلِّدُونَ أَحْكَامَ مُجْتَهِدٍ مِنَ الـمجْتَهِدِينَ وَيَجْعَلُونَهُ إِمَامًا لَهُمْ وَيَجْعَلُونَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ فِي الِاجْتِهَادِ مِنْ أَحْكَامٍ مَذْهَبًا لَهُمْ.

Akan tetapi, realitas taklid telah membuat kaum Muslimin menaklid hukum-hukum seorang mujtahid di antara para mujtahid, menjadikannya imam bagi mereka, dan menjadikan apa yang ia tempuh dalam ijtihad berupa hukum-hukum sebagai mazhab bagi mereka.

23

فَصَارَ مَوْجُودًا وَاقِعِيًّا بَيْنَ الـمسْلِمِينَ، الشَّافِعِيَّةُ وَالحَنَفِيَّةُ وَالـمالِكِيَّةُ وَالحَنَابِلَةُ وَالجَعْفَرِيُّونَ وَالزَّيْدِيُّونَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ.

Maka hal itu menjadi kenyataan yang ada di tengah kaum Muslimin: Syafi'iyah, Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, Ja'fariyah, Zaidiyah, dan lain-lain.

24

وَهَؤُلَاءِ إِنْ كَانُوا يَتَّبِعُونَ الأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ الَّتِي اسْتَنْبَطَهَا هَذَا الـمجْتَهِدُ فَعَمَلُهُمْ شَرْعِيٌّ لِأَنَّهُ اتِّبَاعُ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ.

Mereka ini, jika mengikuti hukum-hukum syariat yang diistinbath oleh mujtahid tersebut, maka amal mereka syar'i karena merupakan pengikutan terhadap hukum syariat.

25

وَأَمَّا إِنْ كَانُوا يَتَّبِعُونَ شَخْصَ الـمجْتَهِدِ لَا اسْتِنْبَاطَهُ، فَعَمَلُهُمْ غَيْرُ شَرْعِيٍّ وَمَا يَتَّبِعُونَهُ لَا يُعْتَبَرُ حُكْمًا شَرْعِيًّا، لِأَنَّهُ كَلَامُ شَخْصٍ وَلَيْسَ مِنْ أَوَامِرِ اللهِ أَوْ نَوَاهِيهِ الَّتِي أَتَانَا بِهَا رَسُولُ اللهِ مُحَمَّدٌ ﷺ.

Adapun jika mereka mengikuti pribadi mujtahid, bukan hasil istinbath-nya, maka amal mereka tidak syar'i dan apa yang mereka ikuti tidak dianggap sebagai hukum syariat, karena itu hanyalah perkataan seseorang, bukan termasuk perintah atau larangan Allah yang dibawa Rasulullah Muhammad ﷺ kepada kita.

26

وَمِنْ هُنَا يَجِبُ أَنْ يَفْهَمَ أَتْبَاعُ الـمذَاهِبِ جَمِيعِهَا أَنَّهُمْ إِنَّمَا يَتَّبِعُونَ الأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ الَّتِي اسْتَنْبَطَهَا هَؤُلَاءِ الأَئِمَّةُ، وَإِذَا فَهِمُوا غَيْرَ ذَلِكَ كَانُوا مَسْؤُولِينَ أَمَامَ اللهِ تَعَالَى عَنْ تَرْكِ الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ وَاتِّبَاعِ أَشْخَاصٍ هُمْ عَبِيدُ اللهِ.

Dari sini, para pengikut semua mazhab wajib memahami bahwa mereka hanyalah mengikuti hukum-hukum syariat yang diistinbath oleh para imam tersebut. Jika mereka memahami selain itu, maka mereka akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta'ala karena meninggalkan hukum-hukum syariat dan mengikuti pribadi-pribadi yang merupakan hamba-hamba Allah.

27

هَذَا مِنْ نَاحِيَةِ اتِّبَاعِ أَحْكَامِ الـمذْهَبِ.

Ini dari sisi mengikuti hukum-hukum mazhab.

28

أَمَّا مِنْ نَاحِيَةِ تَرْكِ هَذِهِ الأَحْكَامِ فَإِنَّهُ يُنْظَرُ، فَإِنْ أَخَذَ الحُكْمَ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ بِهِ بَعْدُ، فَإِنَّ لَهُ تَرْكَهُ وَأَخْذَ غَيْرِهِ بِنَاءً عَلَى مُرَجِّحٍ مِنَ الـمرَجِّحَاتِ الَّتِي تَتَّصِلُ بِطَلَبِ مَرْضَاةِ اللهِ.

Adapun dari sisi meninggalkan hukum-hukum tersebut, maka perlu ditinjau: jika ia telah mengambil suatu hukum tetapi belum mengamalkannya, maka ia boleh meninggalkannya dan mengambil hukum lain berdasarkan suatu penguat (murrajjih) di antara penguat-penguat yang berkaitan dengan mencari keridhaan Allah.

29

أَمَّا إِنْ عَمِلَ بِهِ فِعْلًا فَإِنَّهُ قَدْ أَصْبَحَ هَذَا الحُكْمُ هُوَ الحُكْمُ الشَّرْعِيُّ فِي حَقِّهِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ تَرْكُهُ وَأَخْذُ غَيْرِهِ مِنَ الأَحْكَامِ إِلَّا إِذَا كَانَ الحُكْمُ الثَّانِي اقْتَرَنَ بِدَلِيلٍ وَالحُكْمُ الأَوَّلُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِدَلِيلٍ أَوْ ثَبَتَ لَهُ عَنْ طَرِيقِ التَّعْلِيمِ أَنَّ دَلِيلَ الحُكْمِ الثَّانِي أَقْوَى مِنْ دَلِيلِ الحُكْمِ الأَوَّلِ وَاقْتَنَعَ بِذَلِكَ، فَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَتْرُكَ الحُكْمَ الأَوَّلَ لِأَنَّ اقْتِنَاعَهُ بِالدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ وَتَصْدِيقَهُ بِهِ جَعَلَهُ الحُكْمَ الشَّرْعِيَّ فِي حَقِّهِ قِيَاسًا عَلَى الـمجْتَهِدِ حِينَ يَجِدُ دَلِيلًا أَقْوَى مِنَ الدَّلِيلِ الَّذِي اسْتَنْبَطَ مِنْهُ الحُكْمَ، فَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَتْرُكَ رَأْيَهُ السَّابِقَ وَيَأْخُذَ بِالرَّأْيِ الجَدِيدِ لِقُوَّةِ الدَّلِيلِ.

Adapun jika ia telah mengamalkannya secara nyata, maka hukum tersebut telah menjadi hukum syariat baginya, sehingga tidak boleh ia meninggalkannya dan mengambil hukum lain, kecuali jika hukum kedua disertai dalil sedangkan hukum pertama tidak disertai dalil, atau telah tetap baginya melalui jalur pembelajaran bahwa dalil hukum kedua lebih kuat daripada dalil hukum pertama dan ia meyakini hal itu. Maka ia wajib meninggalkan hukum pertama, karena keyakinannya terhadap dalil syariat dan pembenarannya terhadap dalil itu menjadikannya sebagai hukum syariat baginya, dianalogikan kepada mujtahid ketika menemukan dalil yang lebih kuat daripada dalil yang menjadi dasar istinbath hukumnya, maka ia wajib meninggalkan pendapatnya yang terdahulu dan mengambil pendapat baru karena kuatnya dalil.

30

أَمَّا فِي غَيْرِ هَذِهِ الحَالَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْمُقَلِّدِ أَنْ يَتْرُكَ الحُكْمَ الَّذِي قَلَّدَهُ إِلَى غَيْرِهِ إِذَا اقْتَرَنَ عَمَلُهُ بِذَلِكَ الحُكْمِ.

Adapun dalam keadaan selain ini, maka tidak boleh bagi mukallid (orang yang bertaklid) meninggalkan hukum yang ia taklidi menuju hukum lain jika amalnya telah disertai dengan hukum tersebut.

31

وَأَمَّا تَقْلِيدُ غَيْرِ ذَلِكَ الـمجْتَهِدِ فِي حُكْمٍ آخَرَ فَإِنَّهُ يَجُوزُ لَهُ، لِمَا وَقَعَ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ مِنْ تَسْوِيغِ اسْتِفْتَاءِ الـمقَلِّدِ لِكُلِّ عَالـم فِي مَسْأَلَةٍ.

Adapun menaklid mujtahid lain dalam hukum yang lain, maka itu boleh baginya, karena adanya ijma' para sahabat yang membolehkan seorang mukallid meminta fatwa kepada setiap ulama dalam suatu masalah.

32

وَأَمَّا إِذَا عَيَّنَ الـمقَلِّدُ مَذْهَبًا كَمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَوْ جَعْفَرٍ مَثَلًا وَقَالَ أَنَا عَلَى مَذْهَبِهِ وَمُلْتَزِمٌ لَهُ فَهَنَاكَ تَفْصِيلٌ فِي ذَلِكَ، وَهُوَ أَنَّ كُلَّ مَسْأَلَةٍ مِنَ الـمذْهَبِ الَّذِي قَلَّدَهُ اتَّصَلَ عَمَلُهُ بِهَا فَلَيْسَ لَهُ تَقْلِيدُ غَيْرِهِ فِيهَا. وَمَا لَمْ يَتَّصِلْ عَمَلُهُ بِهَا فَلَا مَانِعَ مِنَ اتِّبَاعِ غَيْرِهِ فِيهَا.

Adapun jika seorang mukallid menentukan suatu mazhab seperti mazhab Syafi'i atau Ja'far misalnya, dan berkata, "Saya berada di atas mazhabnya dan berkomitmen padanya," maka di sana ada perincian: yaitu setiap masalah dari mazhab yang ia taklidi yang amalnya telah berkaitan dengannya, maka ia tidak boleh menaklid orang lain dalam masalah itu. Sedangkan yang amalnya belum berkaitan dengannya, maka tidak ada halangan untuk mengikuti orang lain dalam masalah itu.

33

إِلَّا أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا أَنَّ الـمسْأَلَةَ الَّتِي يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتْرُكَ الحُكْمَ الَّذِي كَانَ يُقَلِّدُهُ فِيهَا إِلَى حُكْمٍ آخَرَ، يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ تَكُونَ مَسْأَلَةً مُنْقَطِعَةً عَنْ غَيْرِهَا وَلَا يَتَرَتَّبُ عَلَى تَرْكِهَا الإِخْلَالُ بِأَحْكَامٍ شَرْعِيَّةٍ أُخْرَى.

Akan tetapi harus jelas bahwa masalah yang boleh baginya meninggalkan hukum yang dahulu ia taklidi menuju hukum lain, disyaratkan masalah itu terpisah dari masalah lain dan tidak berakibat pada ditinggalkannya sebagian hukum syariat lainnya.

34

أَمَّا إِنْ كَانَتْ مُتَّصِلَةً بِغَيْرِهَا فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ تَرْكُهَا حَتَّى يَتْرُكَ جَمِيعَ الـمسَائِلِ الـمتَّصِلَةِ بِهَا، لِأَنَّهَا تُعْتَبَرُ كُلُّهَا مَسْأَلَةً وَاحِدَةً.

Adapun jika masalah itu berkaitan dengan masalah lain, maka ia tidak boleh meninggalkannya sampai ia meninggalkan semua masalah yang berkaitan dengannya, karena semuanya dianggap sebagai satu masalah.

35

كَأَنْ كَانَتْ شَرْطًا فِي حُكْمٍ آخَرَ أَوْ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ عَمَلٍ كَامِلٍ. وَذَلِكَ كَالصَّلَاةِ وَالوُضُوءِ وَكَأَرْكَانِ الصَّلَاةِ.

Seperti jika ia merupakan syarat dalam hukum lain atau rukun dari rukun-rukun suatu amal yang sempurna. Misalnya seperti shalat dan wudhu, serta rukun-rukun shalat.

36

فَلَا يَصِحُّ لِمَنْ يُقَلِّدُ الشَّافِعِيَّ أَنْ يُقَلِّدَ أَبَا حَنِيفَةَ فِي قَوْلِهِ إِنَّ لَمْسَ الـمرْأَةِ لَا يَنْقُضُ الوُضُوءَ وَيَظَلُّ يُصَلِّي عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ،

Maka tidak sah bagi orang yang menaklid Syafi'i untuk menaklid Abu Hanifah dalam pendapatnya bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu, lalu ia tetap shalat menurut mazhab Syafi'i.

37

وَلَا يَصِحُّ أَنْ يُقَلِّدَ مَنْ يَقُولُ إِنَّ الحَرَكَاتِ الكَثِيرَةَ لَا تُبْطِلُ الصَّلَاةَ مَهْمَا بَلَغَتْ، أَوْ أَنَّ عَدَمَ قِرَاءَةِ الفَاتِحَةِ لَيْسَتْ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ، وَيَظَلُّ يُصَلِّي مُقَلِّدًا مَنْ يَقُولُ إِنَّ العَمَلَ الكَثِيرَ يُبْطِلُ الصَّلَاةَ أَوْ أَنَّ الفَاتِحَةَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ.

Dan tidak sah menaklid orang yang mengatakan bahwa gerakan banyak tidak membatalkan shalat sebanyak apa pun, atau bahwa tidak membaca Al-Fatihah bukanlah rukun dari rukun-rukun shalat, lalu ia tetap shalat dengan menaklid orang yang mengatakan bahwa perbuatan banyak membatalkan shalat atau bahwa Al-Fatihah adalah rukun dari rukun-rukun shalat.

38

فَالحُكْمُ الَّذِي يَجُوزُ تَرْكُهُ هُوَ الحُكْمُ الَّذِي لَا يُؤَثِّرُ تَرْكُهُ عَلَى الأَعْمَالِ الَّتِي تُقَامُ بِهَا وَفْقَ أَحْكَامٍ شَرْعِيَّةٍ أُخْرَى.] انْتَهَى.

Maka hukum yang boleh ditinggalkan adalah hukum yang tidak berdampak pada amal-amal yang dilaksanakan menurut hukum-hukum syariat lainnya.] Selesai.

39

فَهَذَا النَّصُّ يُجِيبُ عَلَى تَسَاؤُلَاتِكَ بِتَفْصِيلٍ، وَلِمَزِيدٍ مِنَ التَّوْضِيحِ نَذْكُرُ مَا يَلِي:

Maka nash ini menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda secara terperinci. Untuk penjelasan lebih lanjut, kami sebutkan hal berikut:

40

1- لَا يَجِبُ عَلَى الـمسْلِمِ تَقْلِيدُ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ، بَلِ الوَاجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ الحُكْمِ الشَّرْعِيِّ بِغَضِّ النَّظَرِ عَنِ الـمجْتَهِدِ الَّذِي اسْتَنْبَطَهُ، فَإِذَا اطْمَأَنَّ إِلَى أَنَّ رَأْيَ الـمجْتَهِدِ الفُلَانِيِّ هُوَ الحُكْمُ الشَّرْعِيُّ وَأَنَّهُ الأَرْجَحُ فَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَتَّبِعَهُ...

1. Tidak wajib bagi seorang Muslim menaklid mazhab tertentu, tetapi yang wajib baginya adalah mengikuti hukum syariat tanpa memandang mujtahid yang mengistinbath-nya. Jika ia merasa tenang bahwa pendapat mujtahid tertentu adalah hukum syariat dan bahwa itu yang lebih kuat (arjah), maka ia wajib mengikutinya...

41

لَكِنَّ الـمقَلِّدَ العَامِّيَّ لَا يَقْدِرُ عَلَى تَرْجِيحِ الرَّأْيِ بِدِرَاسَةِ الأَدِلَّةِ لِافْتِقَارِهِ إِلَى أَدَوَاتِ البَحْثِ الَّتِي تُمَكِّنُهُ مِنْ ذَلِكَ، فَيَكُونُ تَرْجِيحُهُ بِنَاءً عَلَى ضَوَابِطَ عَامَّةٍ مِنَ الثِّقَةِ بِالـمجْتَهِدِ أَوْ بِتَرْجِيحِ أَعْلَمِيَّتِهِ وَتَقْوَاهُ... إِلَخْ.

Akan tetapi, mukallid awam tidak mampu melakukan tarjih (penguatan) pendapat dengan mempelajari dalil-dalil karena ia tidak memiliki alat-alat penelitian yang memungkinkannya melakukan hal itu. Maka tarjih-nya dibangun atas dasar kriteria umum, seperti kepercayaan kepada mujtahid atau menguatkan sisi keilmuan dan ketakwaannya... dan seterusnya.

42

فَإِنْ كَانَ يَرَى أَنَّ الشَّافِعِيَّ أَعْلَمُ مِنْ غَيْرِهِ وَأَنَّ رَأْيَهُ فِي الجُمْلَةِ هُوَ الأَقْرَبُ إِلَى الصَّوَابِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَأْخُذَ رَأْيَ الشَّافِعِيِّ... وَهَكَذَا.

Jika ia melihat bahwa Syafi'i lebih berilmu daripada yang lain dan bahwa pendapatnya secara umum lebih dekat kepada kebenaran, maka ia wajib mengambil pendapat Syafi'i... dan seterusnya.

43

2- يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ تَقْلِيدُ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ فِي الـمسَائِلِ كُلِّهَا، وَكَانَ هَذَا الأَمْرُ شَائِعًا عِنْدَ الـمسْلِمِينَ فِيمَا مَضَى مِنَ الزَّمَانِ، وَهُوَ الآنَ أَقَلُّ شُيُوعًا...

2. Boleh bagi seorang Muslim menaklid mazhab tertentu dalam seluruh masalah. Hal ini dahulu umum di kalangan kaum Muslimin pada masa lampau, dan sekarang lebih jarang...

44

وَلَكِنْ لَا يَجُوزُ لَهُ التَّعَصُّبُ لِمَذْهَبِهِ وَاتِّبَاعُ هَذَا الـمذْهَبِ فِي كُلِّ أَمْرٍ حَتَّى لَوْ خَالَفَ الأَدِلَّةَ الشَّرْعِيَّةَ، فَإِنْ تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّ رَأْيَ مَذْهَبٍ آخَرَ فِي أَمْرٍ مَا دَلِيلُهُ أَقْوَى فَلَا يَصِحُّ لَهُ أَنْ يَبْقَى فِي هَذِهِ الـمسْأَلَةِ عَلَى مَذْهَبِهِ الأَوَّلِ تَعَصُّبًا وَتَشَبُّثًا بِهِ لِأَنَّ الشَّرْعَ لَمْ يَأْمُرْهُ بِاتِّبَاعِ مُجْتَهِدٍ مُعَيَّنٍ أَوْ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ بَلْ أَمَرَهُ بِاتِّبَاعِ الحُكْمِ الشَّرْعِيِّ.

Akan tetapi tidak boleh baginya fanatik terhadap mazhabnya dan mengikuti mazhab itu dalam setiap perkara meskipun bertentangan dengan dalil-dalil syariat. Jika telah jelas baginya bahwa pendapat mazhab lain dalam suatu perkara dalilnya lebih kuat, maka tidak sah baginya tetap bertahan dalam masalah itu pada mazhab pertamanya karena fanatik dan berpegang teguh padanya, karena syariat tidak memerintahkannya mengikuti mujtahid tertentu atau mazhab tertentu, tetapi memerintahkannya mengikuti hukum syariat.

45

3- بِالنِّسْبَةِ لِلْمُقَلِّدِ العَامِّيِّ فَإِنَّ الأَسْلَمَ لَهُ أَنْ يَتَّبِعَ مَذْهَبًا مُعَيَّنًا وَيُقَلِّدَهُ فِي جُمْلَةِ المَسَائِلِ، لِأَنَّ المُقَلِّدَ العَامِّيَّ لَيْسَ أَهْلًا لِلنَّظَرِ، وَأَخْذُهُ مِنْ مَذَاهِبَ مُخْتَلِفَةٍ يُمْكِنُ أَنْ يُوجِدَ تَنَاقُضًا وَتَدَاخُلًا وَإِشْكَالَاتٍ...

3. Bagi mukallid awam, yang lebih selamat adalah mengikuti mazhab tertentu dan menaklidnya dalam sejumlah masalah, karena mukallid awam bukanlah orang yang ahli dalam nazhar (penelitian dalil), dan mengambil dari berbagai mazhab dapat menimbulkan kontradiksi, tumpang tindih, dan berbagai problem...

46

لِذَلِكَ يُنْصَحُ المُقَلِّدُ العَامِّيُّ بِاتِّبَاعِ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ خَاصَّةً فِي البِلَادِ الَّتِي يَشِيعُ فِيهَا ذَلِكَ المَذْهَبُ كَالمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فِي مِصْرَ مَثَلًا أَوِ المَالِكِيِّ فِي المَغْرِبِ مَثَلًا...

Oleh karena itu, mukallid awam disarankan mengikuti mazhab tertentu, khususnya di negeri-negeri yang mazhab itu tersebar luas, seperti mazhab Syafi'i di Mesir misalnya atau mazhab Maliki di Maroko misalnya...

47

4- مُصْطَلَحُ التَّلْفِيقِ يُسْتَعْمَلُ فِي أَكْثَرَ مِنْ مَعْنًى، لَكِنَّ أَبْرَزَهَا مَعْنَيَانِ اثْنَانِ:

4. Istilah talfiq digunakan untuk lebih dari satu makna, tetapi yang paling menonjol ada dua makna:

48

أ- أَخْذُ آرَاءِ مُجْتَهِدِينَ مُتَعَدِّدِينَ فِي مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ بِحَيْثُ يَأْخُذُ بِرَأْيِ أَحَدِ المُجْتَهِدِينَ فِي جُزْءٍ مِنَ المَسْأَلَةِ وَرَأْيِ مُجْتَهِدٍ آخَرَ فِي جُزْءٍ آخَرَ مِنَ المَسْأَلَةِ فَيَأْخُذُ حُكْمًا مُرَكَّبًا لَا يَقُولُ بِهِ المُجْتَهِدُ الأَوَّلُ وَلَا المُجْتَهِدُ الثَّانِي، فَيَكُونُ عَمَلُهُ وَفْقَ هَذَا الحُكْمِ المُرَكَّبِ غَيْرَ صَحِيحٍ عِنْدَ كِلَا المُجْتَهِدَيْنِ...

a. Mengambil pendapat beberapa mujtahid dalam satu masalah, sehingga ia mengambil pendapat salah satu mujtahid pada sebagian masalah dan pendapat mujtahid lain pada bagian lain dari masalah itu, lalu ia mengambil hukum gabungan yang tidak dikatakan oleh mujtahid pertama maupun mujtahid kedua. Maka amalnya menurut hukum gabungan ini tidak sah menurut kedua mujtahid itu...

49

وَالتَّلْفِيقُ بِهَذَا المَعْنَى مُبَيَّنٌ فِي النَّصِّ المَنْقُولِ مِنْ كِتَابِ الشَّخْصِيَّةِ الإِسْلَامِيَّةِ عَدَمُ جَوَازِهِ فِي رَأْيِ الحِزْبِ:

Talfiq dengan makna ini dijelaskan dalam nash yang dikutip dari kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah bahwa tidak boleh menurut pendapat Hizb:

50

[إِلَّا أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا أَنَّ المَسْأَلَةَ الَّتِي يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتْرُكَ الحُكْمَ الَّذِي كَانَ يُقَلِّدُهُ فِيهَا إِلَى حُكْمٍ آخَرَ، يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ تَكُونَ مَسْأَلَةً مُنْقَطِعَةً عَنْ غَيْرِهَا وَلَا يَتَرَتَّبُ عَلَى تَرْكِهَا الإِخْلَالُ بِأَحْكَامٍ شَرْعِيَّةٍ أُخْرَى.

[Akan tetapi harus jelas bahwa masalah yang boleh baginya meninggalkan hukum yang dahulu ia taklidi menuju hukum lain, disyaratkan masalah itu terpisah dari masalah lain dan tidak berakibat pada ditinggalkannya sebagian hukum syariat lainnya.

51

أَمَّا إِنْ كَانَتْ مُتَّصِلَةً بِغَيْرِهَا فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ تَرْكُهَا حَتَّى يَتْرُكَ جَمِيعَ المَسَائِلِ المُتَّصِلَةِ بِهَا، لِأَنَّهَا تُعْتَبَرُ كُلُّهَا مَسْأَلَةً وَاحِدَةً.

Adapun jika masalah itu berkaitan dengan masalah lain, maka ia tidak boleh meninggalkannya sampai ia meninggalkan semua masalah yang berkaitan dengannya, karena semuanya dianggap sebagai satu masalah.

52

كَأَنْ كَانَتْ شَرْطًا فِي حُكْمٍ آخَرَ أَوْ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ عَمَلٍ كَامِلٍ. وَذَلِكَ كَالصَّلَاةِ وَالوُضُوءِ وَكَأَرْكَانِ الصَّلَاةِ.

Seperti jika ia merupakan syarat dalam hukum lain atau rukun dari rukun-rukun suatu amal yang sempurna. Misalnya seperti shalat dan wudhu, serta rukun-rukun shalat.

53

فَلَا يَصِحُّ لِمَنْ يُقَلِّدُ الشَّافِعِيَّ أَنْ يُقَلِّدَ أَبَا حَنِيفَةَ فِي قَوْلِهِ إِنَّ لَمْسَ المَرْأَةِ لَا يَنْقُضُ الوُضُوءَ وَيَظَلُّ يُصَلِّي عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ،

Maka tidak sah bagi orang yang menaklid Syafi'i untuk menaklid Abu Hanifah dalam pendapatnya bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu, lalu ia tetap shalat menurut mazhab Syafi'i.

54

وَلَا يَصِحُّ أَنْ يُقَلِّدَ مَنْ يَقُولُ إِنَّ الحَرَكَاتِ الكَثِيرَةَ لَا تُبْطِلُ الصَّلَاةَ مَهْمَا بَلَغَتْ، أَوْ أَنَّ عَدَمَ قِرَاءَةِ الفَاتِحَةِ لَيْسَتْ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ، وَيَظَلُّ يُصَلِّي مُقَلِّدًا مَنْ يَقُولُ إِنَّ العَمَلَ الكَثِيرَ يُبْطِلُ الصَّلَاةَ أَوْ أَنَّ الفَاتِحَةَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ.

Dan tidak sah menaklid orang yang mengatakan bahwa gerakan banyak tidak membatalkan shalat sebanyak apa pun, atau bahwa tidak membaca Al-Fatihah bukanlah rukun dari rukun-rukun shalat, lalu ia tetap shalat dengan menaklid orang yang mengatakan bahwa perbuatan banyak membatalkan shalat atau bahwa Al-Fatihah adalah rukun dari rukun-rukun shalat.

55

فَالحُكْمُ الَّذِي يَجُوزُ تَرْكُهُ هُوَ الحُكْمُ الَّذِي لَا يُؤَثِّرُ تَرْكُهُ عَلَى الأَعْمَالِ الَّتِي تُقَامُ بِهَا وَفْقَ أَحْكَامٍ شَرْعِيَّةٍ أُخْرَى.] انْتَهَى.

Maka hukum yang boleh ditinggalkan adalah hukum yang tidak berdampak pada amal-amal yang dilaksanakan menurut hukum-hukum syariat lainnya.] Selesai.

56

ب- أَخْذُ مَسْأَلَةٍ مُنْفَصِلَةٍ مِنْ مَذْهَبٍ آخَرَ غَيْرِ الَّذِي عَيَّنَهُ المُقَلِّدُ، كَأَنْ يُقَلِّدَ الشَّافِعِيَّ فِي الصَّلَاةِ ثُمَّ يَأْخُذَ فِي الحَجِّ بِرَأْيِ الحَنَابِلَةِ...

b. Mengambil masalah yang terpisah dari mazhab lain selain yang ditentukan oleh mukallid, seperti ia menaklid Syafi'i dalam shalat kemudian mengambil pendapat Hanabilah dalam haji...

57

فَالتَّلْفِيقُ بِهَذَا المَعْنَى يَجُوزُ بِتَفْصِيلٍ فِيهِ كَمَا هُوَ مَذْكُورٌ فِي الأَعْلَى فِي النَّصِّ المَنْقُولِ مِنْ كِتَابِ الشَّخْصِيَّةِ الإِسْلَامِيَّةِ الجُزْءِ الأَوَّلِ:

Maka talfiq dengan makna ini boleh dengan perincian yang disebutkan di atas dalam nash yang dikutip dari kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah Jilid Pertama:

58

[هَذَا مِنْ نَاحِيَةِ اتِّبَاعِ أَحْكَامِ المَذْهَبِ. أَمَّا مِنْ نَاحِيَةِ تَرْكِ هَذِهِ الأَحْكَامِ فَإِنَّهُ يُنْظَرُ، فَإِنْ أَخَذَ الحُكْمَ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ بِهِ بَعْدُ، فَإِنَّ لَهُ تَرْكَهُ وَأَخْذَ غَيْرِهِ بِنَاءً عَلَى مُرَجِّحٍ مِنَ المُرَجِّحَاتِ الَّتِي تَتَّصِلُ بِطَلَبِ مَرْضَاةِ اللهِ.

[Ini dari sisi mengikuti hukum-hukum mazhab. Adapun dari sisi meninggalkan hukum-hukum tersebut, maka perlu ditinjau: jika ia telah mengambil suatu hukum tetapi belum mengamalkannya, maka ia boleh meninggalkannya dan mengambil hukum lain berdasarkan suatu penguat (murrajjih) di antara penguat-penguat yang berkaitan dengan mencari keridhaan Allah.

59

أَمَّا إِنْ عَمِلَ بِهِ فِعْلًا فَإِنَّهُ قَدْ أَصْبَحَ هَذَا الحُكْمُ هُوَ الحُكْمُ الشَّرْعِيُّ فِي حَقِّهِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ تَرْكُهُ وَأَخْذُ غَيْرِهِ مِنَ الأَحْكَامِ إِلَّا إِذَا كَانَ الحُكْمُ الثَّانِي اقْتَرَنَ بِدَلِيلٍ وَالحُكْمُ الأَوَّلُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِدَلِيلٍ أَوْ ثَبَتَ لَهُ عَنْ طَرِيقِ التَّعْلِيمِ أَنَّ دَلِيلَ الحُكْمِ الثَّانِي أَقْوَى مِنْ دَلِيلِ الحُكْمِ الأَوَّلِ وَاقْتَنَعَ بِذَلِكَ، فَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَتْرُكَ الحُكْمَ الأَوَّلَ لِأَنَّ اقْتِنَاعَهُ بِالدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ وَتَصْدِيقَهُ بِهِ جَعَلَهُ الحُكْمَ الشَّرْعِيَّ فِي حَقِّهِ قِيَاسًا عَلَى المُجْتَهِدِ حِينَ يَجِدُ دَلِيلًا أَقْوَى مِنَ الدَّلِيلِ الَّذِي اسْتَنْبَطَ مِنْهُ الحُكْمَ، فَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَتْرُكَ رَأْيَهُ السَّابِقَ وَيَأْخُذَ بِالرَّأْيِ الجَدِيدِ لِقُوَّةِ الدَّلِيلِ.

Adapun jika ia telah mengamalkannya secara nyata, maka hukum tersebut telah menjadi hukum syariat baginya, sehingga tidak boleh ia meninggalkannya dan mengambil hukum lain, kecuali jika hukum kedua disertai dalil sedangkan hukum pertama tidak disertai dalil, atau telah tetap baginya melalui jalur pembelajaran bahwa dalil hukum kedua lebih kuat daripada dalil hukum pertama dan ia meyakini hal itu. Maka ia wajib meninggalkan hukum pertama, karena keyakinannya terhadap dalil syariat dan pembenarannya terhadap dalil itu menjadikannya sebagai hukum syariat baginya, dianalogikan kepada mujtahid ketika menemukan dalil yang lebih kuat daripada dalil yang menjadi dasar istinbath hukumnya, maka ia wajib meninggalkan pendapatnya yang terdahulu dan mengambil pendapat baru karena kuatnya dalil.

60

أَمَّا فِي غَيْرِ هَذِهِ الحَالَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْمُقَلِّدِ أَنْ يَتْرُكَ الحُكْمَ الَّذِي قَلَّدَهُ إِلَى غَيْرِهِ إِذَا اقْتَرَنَ عَمَلُهُ بِذَلِكَ الحُكْمِ.

Adapun dalam keadaan selain ini, maka tidak boleh bagi mukallid meninggalkan hukum yang ia taklidi menuju hukum lain jika amalnya telah disertai dengan hukum tersebut.

61

وَأَمَّا تَقْلِيدُ غَيْرِ ذَلِكَ المُجْتَهِدِ فِي حُكْمٍ آخَرَ فَإِنَّهُ يَجُوزُ لَهُ، لِمَا وَقَعَ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ مِنْ تَسْوِيغِ اسْتِفْتَاءِ المُقَلِّدِ لِكُلِّ عَالِمٍ فِي مَسْأَلَةٍ.

Adapun menaklid mujtahid lain dalam hukum yang lain, maka itu boleh baginya, karena adanya ijma' para sahabat yang membolehkan seorang mukallid meminta fatwa kepada setiap ulama dalam suatu masalah.

62

وَأَمَّا إِذَا عَيَّنَ المُقَلِّدُ مَذْهَبًا كَمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَوْ جَعْفَرٍ مَثَلًا وَقَالَ أَنَا عَلَى مَذْهَبِهِ وَمُلْتَزِمٌ لَهُ فَهَنَاكَ تَفْصِيلٌ فِي ذَلِكَ، وَهُوَ أَنَّ كُلَّ مَسْأَلَةٍ مِنَ المَذْهَبِ الَّذِي قَلَّدَهُ اتَّصَلَ عَمَلُهُ بِهَا فَلَيْسَ لَهُ تَقْلِيدُ غَيْرِهِ فِيهَا. وَمَا لَمْ يَتَّصِلْ عَمَلُهُ بِهَا فَلَا مَانِعَ مِنَ اتِّبَاعِ غَيْرِهِ فِيهَا.] انْتَهَى.

Adapun jika seorang mukallid menentukan suatu mazhab seperti mazhab Syafi'i atau Ja'far misalnya, dan berkata, "Saya berada di atas mazhabnya dan berkomitmen padanya," maka di sana ada perincian: yaitu setiap masalah dari mazhab yang ia taklidi yang amalnya telah berkaitan dengannya, maka ia tidak boleh menaklid orang lain dalam masalah itu. Sedangkan yang amalnya belum berkaitan dengannya, maka tidak ada halangan untuk mengikuti orang lain dalam masalah itu.] Selesai.

63

وَهَكَذَا فَإِنَّ تَدَبُّرَ النَّصِّ المَنْقُولِ مِنْ كِتَابِ الشَّخْصِيَّةِ الإِسْلَامِيَّةِ يُجِيبُ عَلَى تَسَاؤُلَاتِكَ كُلِّهَا.

Demikianlah, merenungkan nash yang dikutip dari kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah menjawab semua pertanyaan Anda.

64

أَخُوكُمْ عَطَاءُ بْنُ خَلِيلٍ أَبُو الرَّشْتَةِ

Saudara Anda, 'Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah

65

15 رَبِيعٍ الأَوَّلِ 1448هـ

15 Rabi'ul Awwal 1448 H

66

الْمُوَافِقُ 2026/08/28م

Bertepatan dengan 28/08/2026 M

 

https://web.facebook.com/AtaAboAlrashtah/posts/pfbid02nYYNLW2wbAX2H1dZqpxwyxDmncQLPCP3w6GUwpCSNn5b9G3fRTjuztytk1k4ka3El

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aktivisme Muslim Global: Membangun Citra Positif dan Menepis Islamofobia

Bolehkah Non-Muslim Mengenakan Kerudung?